Toko Pasutri

1/13/2013

Menutupi Aib dengan Aborsi


Sementara ada yang bertahun-tahun menikah tapi susah punya anak, beberapa orang malah menganggap kehamilan sebagai aib yang harus ditutupi. Aborsi jadi pilihan untuk menyelamatkan nama baik, meski kadang tidak sesuai dengan suara hati.

Hal ini sering terjadi pada perempuan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan, terutama yang terjadi di luar nikah. Naluri sebagai seorang calon ibu seringkali menggerakkan hatinya untuk merawat janin dalam kandungannya, agar kelak bisa lahir dengan selamat.

Namun kenyataanya, seringkali pasangannya merasa tidak siap untuk jadi bapak dan akhirnya tidak mau bertanggung jawab. Kalau sudah begitu, keluarga jadi ikut-ikutan panik dan akhirnya terbesit keinginan untuk mengambil jalan pintas dengan menghentikan kehamilan lewat aborsi.

"Dalam kondisi seperti ini, perempuan mengalami stres yang sangat tinggi. Pertama karena tidak mau aborsi tapi dipaksa, kedua karena trauma akibat proses aborsi yang memang menyakitkan," kata Inna Hudaya, seorang konselor bagi pelaku aborsi saat dihubungi detikHealth.

Aborsi yang dilakukan karena terpaksa termasuk dalam kategori aborsi tidak aman. Aborsi baru dikatakan aman jika dikerjakan oleh dokter di klinik yang resmi, ditindaklanjuti dengan pemeriksaan untuk memastikan tidak ada komplikasi dan yang terpenting harus didahului dengan konseling.

Pentingnya konseling pra-aborsi salah satunya untuk memastikan bahwa tindakan ini benar-benar merupakan pilihan si perempuan yang sedang hamil, bukan atas desakan keluarga atau pasangan yang tidak mau bertanggung jawab. Risiko baik fisik maupun kejiwaan juga akan sangat ditekankan saat konseling.

Demikian juga setelah aborsi, perempuan kadang-kadang masih akan terbebani oleh perasaan bersalah hingga rentan mengalami depresi. Bahkan bukan cuma trauma secara kejiwaan, penderitaan ini kadang masih diperparah dengan trauma fisik karena proses aborsi umumnya sangat menyakitkan.

Inna mengatakan, aborsi bukan satu-satunya pilihan saat perempuan mengalami kehamilan yang tidak direncanakan. Pilihan lainnya adalah melanjutkan kehamilan sampai anaknya lahir lalu dibesarkan dengan maupun tanpa pasangan, atau bisa juga memilih alternatif ketiga yakni adopsi.

"Kalau pilih adopsi, perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak direncanakan bisa tinggal dulu di shelter sampai anaknya lahir. Begitu anaknya lahir, dia bisa dibantu mencarikan orangtua angkat. Sepertinya agak repot, tapi selama ini mudah kok," kata Inna. Sumber.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

2,5 Juta Janin Tiap Tahun 'Menjerit' Karena Dimatikan


Terjadinya keguguran pada kehamilan disebut dengan abortus atau aborsi. Aborsi bisa terjadi secara alamiah dan maupun buatan. Jumlah aborsi di Indonesia cukup banyak, yaitu terdapat 2,5 juta kasus per tahunnya.

Pada aborsi alami, keguguran bayi terjadi secara tidak disengaja, bisa disebabkan oleh kelainan atau cedera saat kehamilan. Sedangkan aborsi buatan dilakukan untuk tujuan tertentu secara sengaja. Istilah aborsi ini kemudian mengacu pada aborsi buatan, sedangkan aborsi alami disebut keguguran.

Sayangnya, aborsi buatan atau yang akrab disebut aborsi ini diduga jumlahnya juga cukup besar di Indonesia. Berdasarkan sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, diperkirakan jumlah kelahiran di Indonesia adalah sebesar 5 Juta jiwa per tahun dan angka keguguran sebesar 3,5 juta per tahun.

Untuk berapa pastinya angka aborsi di Indonesia saat ini, belum ada data yang benar-benar bisa dianggap valid. Apalagi aborsi tidak dilegalkan di Indonesia kecuali dengan alasan medis. Maka penelitian terhadap klinik-klinik aborsi ilegal tentu sulit dilakukan karena klinik-klinik ini cenderung menutup diri.

"Membicarakan aborsi adalah hal yang sensitif, apalagi karena hukumnya ilegal. Tapi jumlahnya memang cukup banyak sekitar 2,5 jutaan setiap tahun. Jika jumlah ini benar, maka angka aborsi jika dihitung sudah hampir separuh dari angka kelahiran di Indonesia," kata Sudibyo Alimoesa, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN saat dihubungi detikHealth, Rabu (30/5/2012).

Menurut Sudibyo, perkiraan 2,5 juta tersebut merupakan hasil penelitian independen yang dilakukan oleh pribadi atau LSM. Caranya adalah dengan menghitung rata-rata aborsi yang dilakukan beberapa klinik di kota besar Indonesia kemudian mengalikan dengan perkiraan jumlah klinik di Indonesia.

World Health Organization (WHO) pada tahun 2004 memperkirakan ada 20 juta kasus aborsi tidak aman di dunia. Sebanyak 9,5 % di antaranya terjadi di negara berkembang. Di wilayah Asia Tenggara, WHO memperkirakan sebanyak 4,2 juta aborsi dilakukan setiap tahun dan sekitar 750.000 sampai 1,5 juta terjadi di Indonesia.

Beberapa penelitian yang dilakukan pada tahun 2000 menemukan bahwa angka aborsi di Indonesia sebesar 2 juta per tahun. Angka ini terus mengalami kenaikan. Sebuah penelitian yang dilakukan Soetjiningsih pada tahun 2004 memperkirakan angka aborsi di Indonesia mencapai 2,3 juta pertahun. Sekitar 750.000 diantaranya dilakukan oleh remaja.

"Aborsi tidak hanya bisa dilakukan di klinik saja. Beberapa obat yang masuk dalam jenis anti prostaglandin juga dapat diperoleh tanpa resep dokter untuk digunakan menggugurkan kandungan. Makanya, data mengenai jumlah kasus aborsi di Indonesia sulit ditentukan secara tepat," kata Julianto Witjaksono, Deputi KB dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Pusat.

Hingga saat ini, diyakini angka aborsi di Indonesia mencapai 2 - 2,5 juta per tahun. Angka ini masih simpang siur karena belum ada penelitian yang benar-benar mengulas aborsi secara menyeluruh. Belum lagi kasus aborsi yang dilakukan dengan cara meminum obat atau jamu tanpa bimbingan dokter. Sumber.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Aborsi. Info Seputar Ibu Hamil, Anak, Bayi dan Balita...